Selasa, 01 Agustus 2017

ASPEK-ASPEK SOSIAL BUDAYA DESA TALANG


Prespektif Budaya Masyarakat di Desa Talang masih sangat kental dengan budaya Madura. Hal ini dapat dimengerti karena hampir semua desa di Kabupaten Sumenep masih kuat terpengaruh dengan adanya pusat kebudayaan Madura yang tercermin dari keberadaan Keraton Kasultanan dari latar belakang budaya,kita bisa melihat aspek sosial dan budaya yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Didalam hubungannya dengan Agama yang dianut misalnya, Islam sebagai agama mayoritas dianut masyarakat, dalam menjalankanya sangat kental dengan tradisi budaya Madura.
Tradisi budaya Madura sendiri berkembang dan banyak dipengaruhi ritual-ritual agama atau kepercayaan masyarakat sebelum Agama Islam masuk. Hal ini menjelaskan mengapa peringatan-peringatan keagamaan yang ada di masyarakat, terutama Islam karena dipeluk mayoritas masyarakat, dalam menjalankannya muncul kesan nuansa tradisinya. Contoh yang bisa kita lihat adalah peringatan Tahun Baru Hijriah, sejak zaman dahulu Tahun Baru Hijriah dimaknai sebagai tahun baru Suro atau yang dikenal Suroan. Nama ini diambil adari bulan Assyuro dalam kalender Hijriah/Islam. Dalam cara memperingatinyapun bercampur antara doa-doa Agama Islam dan melakukan tindakan yang biasa dijalankan dalam tradisi masyarakat Madura. Contoh antara lain adalah aberebbe tradisi tahunan yang dilakukan menjelang Bulan Puasa/Ramadhan untuk shadaqah menengok dan membersihkan makam orang tua maupun kerabat dan leluhur, kegiatan ini dikombinasikan dengan Doa untuk yang sudah meninggal; Mauludan – berasal dari kata Milad (Bhs. Arab) artinya kelahiran Nabi Muhammad SAW. Yang diperingati di sini dengan membuat apem dibagi-bagikan ke tetangga, di Mushalla membuat Gunungan (hasil bumi dan makanan yang disusun seperti gunung) didoakan dengan cara Islam setelah itu diarak dan pada akhirnya diperebutkan oleh masyarakat yang datang dari mana-mana terutama dari Kabupaten Sumenep. 
Secara individual didalam keluarga masyarakat Talang, tradisi dipadu dengan agama terutama Islam, juga masih tetap dipegang. Tradisi ini dilakukan selain sebagai kepercayaan yang masih diyakini sekaligus digunakan sebagai bagian cara untuk bersosialisasi dan berinteraksi di masyarakat. Misalkan: tradisi mengirim doa untuk orang tua atau leluhur dilakukan dengan mengundang tetangga dan kenalan yang disebut Slametan. Selametan ini biasanya dilakukan mulai dari satu sampai tujuh hari keluarga yang ditinggal mati, yang disebut Tahlilan. Selanjutnya hari keseratus dari tanggal kematian yang disebut Slametan Nyatus, berikutnya hari kesetahun, berikutnya hari ke tiga tahun yang disebut Slametan Nyewu. Perhitungan tanggal kegiatan dilakukan dengan menggunakan tanggalan.
Bersyukur kepada tuhan karena dikaruniai anak pertama pada tradisi masyarakat Talang juga masih berjalan, disebut Pelet Petteng ketika kandungan ibu menginjak usia tujuh bulan. Namun yang paling populer di wilayah Perkampungan di Desa Talang, khususnya di masing-masing kring adalah adat tradisi Assyaro membuat bubur putih yang kemudian dimakan secara bersama-sama oleh seluruh warga masyarakat di Moshalla  masing-masing. Kegiatan ini adalah salah satu kegiatan bersama yang dilakukan untuk menghormati para leluhur yang merintis tumbuhnya Perkampungan atau Desa sekaligus untuk gotong royong membersihkan desa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POTENSI SUMBERDAYA DESA TALANG

Sumber Daya Alam: 1. Lahan pertanian yang masih dapat ditingkatkan produktifitasnya   karena saat ini belum dikerjakan secara opt...